Home SEJARAH

SEJARAH

Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia atau disingkat PKBI didirikan pada Tanggal 23 Desember 1957 dalam sebuah pertemuan yang diadakan di gedung Ikatan Dokter Indonesia di Jalan Dr. Sam Ratulangi No.29 Jakarta, yang diketuai oleh Dr.R Soeharto.

Dan pada tahun 1969 PKBI menjadi anggota penuh (full member) dari International Planned Parenthood Federation (IPPF), setelah selama 2 tahun (sejak 1967) menjadi Associate Member.

PKBI di Sulawesi Selatan dibentuk pada tanggal 8 Februari 1968, adalah merupakan kantor operasional untuk wilayah Sulawesi Selatan, yang saat ini memiliki 12 cabang akif yakni : 1). Selayar, 2). Bulukumba, 3). Bantaeng, 4). Jeneponto, 5). Soppeng, 6). Maros, 7). Makassar, 8). Enrekang, 9). Luwu, dan 10). Parepare, 11). Sidrap, 12). Bone.

Prioritas awal pembentukan adalah penanganan permasalahan kependudukan yang kemudian diintervensi melalui penanganan kelahiran yang terencana melalui Keluarga Berencana. Titik berat yang diupayakan adalah penanganan terhadap keselamatan ibu dan anak sesuai dengan Visi dan Misi PKBI pada masa itu, dengan semangat kerelawanan.

Sejak PKBI dibentuk di Sulawesi Selatan, telah banyak melakukan kegiatan yang berbasis pada kerelawanan di bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Ibu dan Anak. Pada saat ini, usaha itu tetap dilakukan walaupun ruang lingkup program-program organisasi telah berkembang hingga pada tahap pemberdayaan masyarakat pada aspek kesehatan sebagai entry poin sesuai dengan tujuan PKBI yang telah ditetapkan yakni, mewujudkan terciptanya keluarga bertanggung jawab guna mencapai tujuan umum keluarga sejahtera dalam upaya perbaikan mutu sumber daya manusia (SDM) Indonesia dengan senantiasa memperhatikan aspek ketahanan fisik, sosial budaya, mental dan spiritual dan hak asasi manusia.

Keluarga bertanggung jawab, yang dimaksud mempunyai lima dimensi, yaitu :

  • Dimensi kelahiran, adalah menjamin setiap kelahiran yang direncanakan dan dikehendaki;
  • Dimensi kesehatan, adalah penguasaan pengetahuan dan perilaku hidup sehat fisik mental dan spiritual;
  • Dimensi pendidikan, adalah memberikan kesempatan yang sama kepada setiap anggota keluarga untuk mengembangkan kemampuan, kecerdasan dan kepribadian yang dilaksanakan secara dialogis;
  • Dimensi kesejahteraan, adalah menyeimbangkan kecukupan sandang, pangan dan papan dengan jati diri yang mandiri dan bermartabat;
  • Dimensi masa depan, adalah membangun kesiapan keluarga menghadapi tantangan kehidupan di masa depan.
WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com